Di PERSIMPANGAN [6,5 Km]

13 09 2008

Allahu akbar …!Allahu akbar…!

Adzan subuh sudah berkumandang, saatnya memenuhi kewajiban.!

“Eh Naila sudah bangun, tahu ya kalau hari ini mau jalan – jalan ” kataku sambil mencium pipinya.

“Umy mandi aja dulu, biar Nay ku mandikan!” kataku, maka ku siapkan segala pernak pernik (emang aksesoris) mandinya. Dan pagi itu 30/08/2008 :05.00 wib semua kesibukan terjadi, untung semua keperluan perjalanan sudah dipersiapkan sebelum tidur, jadi kami tidak begitu ribet berbenahnya. Dengan semangat 45 dan dibuai dengan udara dingin (kasihan Nay ya) 05.30 wib, kami berangkat. Dan sebelum jam 06.00 wib, kami sudah sampai di kantor, ternyata sudah banyak yang datang. Tanpa butuh waktu lama ternyata semua staff sudah kumpul (Dayat tidak ikut), eh kurang Pak Budi dan Mbak Sofie, ditunggu sampai jam 07.15 wib ternyata belum juga hadir jadi dengan segala kerendahan hati kami berangkat meninggalkan mereka. Hari ini semua ditemani keluarga kecuali Januar, Pak Subhan, Pak Prapto,dan Pak Yoga mereka merasa jadi bujangan, tapi terlepas itu semua, kita akan menikmati piknik hari ini.

Perjalanan panjang jauh dan melelahkan, Nay sangat menikmati perjalanan ini, untunglah dia tidak rewel (berkat bantuan mbak Aries dan Januar yang ikut gantian menggendong tentunya). 12.?? Wib sampai di Owabong. Kita berkumpul, bagi kado silang (aku dapat handuk) dan dapat kaos UNICEF dari mbak wiwik (thanx 4 that) karena ikutan kuisnya. Setelah kumpul akhirnya acara bersenang – senang, semua menyebar mencari kesenangannya sendiri, aku tertancap (kata bang hendra) di mushola bersama Nay and my lovely wife, istriku sebenarnya sudah ngijinin aku untuk gabung sama temen – temen, tapi aku lebih senang menghabiskan waktu dengan mereka, apalagi AUROT DIUMBAR DIMANA – MANA…!$%#%^&%*

Owabong selesai, semua senang, semua gembira (dapatkan ceritanya di http://irdyogyafamily.wordpress.com

Pukul 22.?? Wib sampai kantor, semua sudah merasa lelah, energi kita telah habis di perjalanan hari ini, satu persatu kita mulai berpamitan, ada beberapa kawan yang sudah turun di perjalanan, Satyo wife, Pak Sunoto,ibu Rah, Pak Prapto ,Mbak Wiwik and Husband (mas. Toni), dan akhirnya dengan perasaan sedih kita saling berpamitan dan mengucapkan maaf (malam yang sedih). Aku, Nay dan istriku menembus gelapnya malam menuju rumah kami tercinta.

Malam semakin larut, sepi, dingin dan membeku. Nay terlelap, istriku tertidur kecapean (tangannnya ampe bengkak), dan aku pun mencoba memejamkan mata, berdoa dan berucap “terima kasih Allah, telah Kau berikan aku hari – hari yang menyenangkan”..z..z..z..z





MILEstone [5 km dan 6 km]

9 09 2008

“saya kecewa, tapi saya harus mengatakannya!”

Semua menunduk, diam. Yah…..! hari itu Jum’at, 29 /08 / 2008 ( sore)

duduk melingkar, meja di ruang tengah sebagai porosnya, hari ini kita mengadakan staff meeting jam 16.00 wib, biasanya hanya program staff tapi hari ini semua staff berhak hadir (kecuali Pak Dedi dan Yamidi), kita sudah bisa menebak agenda apa saja yang kira – kira akan di bahas, (apalagi kalau bukan acara perpisahan) tapi ternyata ada satu hal yang membuat pak sofyan mencoba mengungkapkan isi hatinya sore ini, yah….!satu hal yang semula tidak terfikirkan oleh kami (bahkan oleh saya), dan satu hal itu yang membuat pak Sofyan begitu bergetar menahan artikulasi suaranya agar terlihat datar, tapi kami masih bisa merasakan luapan emosi dan desakan kesedihan yang menjadi satu disana. Kejadian tidak mungkin terulang, kata sudah terucap dan pembelajaran sudah dimulai saat ini. Dua orang yang memandang sebongkah batu belum tentu mereka bisa menceritakan hal yang sama, apalagi dari sudut yang berbeda, catat kawan “pandanglah segala sesuatu dari sudut pandang atau perspektif yang berbeda”[mileSTONE 5km]. Aku tergetar saat melihat orang seperti pak Sofyan, bahwa bekerja bukanlah hanya mencari uang semata (bukan untuk seseorang), tapi juga teman, sahabat bahkan keluarga, mereka seperti bagian tubuh, saat satu sakit semua merasakannya, itulah salah satu alasan mengapa pak sofyan mengundurkan diri. Walaupun aku berharap tidak perlu sejauh itu, karena aku yakin bahwa itu bukan penghianatan. Mungkin dengan tetapnya pak Sofyan disana, beliau masih bisa membuat kegiatan yang suatu saat nanti bisa melibatkan kita lagi, tapi semua keputusan ada di tangan beliau dan aku menghormatinya.

“maafkan, terima kasih” kata tersebut banyak terulang, satu persatu kami mengucapkan segala luapan emosi dan keinginan kami sebelum berpisah. Kata demi kata mengalir mewakili perasaan masing – masing staf. Kami sudah siap, kami akan berjuang dan kami ingin hidup lebih baik lagi,(itu tergambar dari wajah – wajah semua staf). Semua tertawa, semua senang dan semua melupakan segala permasalahan yang terjadi selama ini, “Goreskanlah segala cerita tentang kegembiraan, kesenangan dan keceriaan di pualam yang putih agar kita bisa mengenangnya, dan goreskanlah segala kepedihan, duka dan lara di atas pasir agar angin kesedihan segera menghapusnya agar tidak berbekas lagi” [mileSTONE 6km]. Selamat berjuang SAHABAT.

Dan untuk ESOK, bersenang – senang ke OWABONG, lupakan semuanya…..!